Menyambut HARI FILM NASIONAL 2010

Kineforum – Dewan Kesenian Jakarta

Mempersembahkan

BULAN FILM NASIONAL 2010 “Sejarah adalah Sekarang

Teater Kecil, Senin - Rabu, 1 - 31 Maret 2010

 

Hari Film Nasional kita peringati setiap tanggal 30 Maret bertepatan dengan hari pertama syuting film Darah dan Doa karya Usmar Ismail enam puluh tahun yang lalu. Saat ini kita masih terus menghadapi persoalan penting, bahkan bahan tentang sejarah film pun tidak bisa kita nikmati dengan layak. “Sejarah adalah sekarang” merupakan tawaran Kineforum untuk terus menerus melakukan upaya melestarikan warisan sejarah film Indonesia supaya generasi saat ini maupun yang akan datang tetap merasa ikut memiliki dan bisa menikmatinya.

 

Selain itu masa kini adalah masa yang tepat untuk melihat perkembangan film di Indonesia yang semakin memperlihatkan eksistensinya. Kineforum – DKJ ingin mengajak berbagai pihak bersama-sama menyambut hari besar bagi masyarakat film di Indonesia melalui serangkaian acara yang akan di selenggarakan.

 

Pameran Sejarah Bioskop Indonesia, 1–31 Maret 2010, Lobby Teater Kecil

Konser Taman “Rock”, 14 Maret 2010, Halaman Teater Kecil

Diskusi “Public Lecturer Veronica Kusuma”, 27 Maret 2010, Lobby Teater Kecil

Pemutaran Film “Tiga Dara”, Pesta Kostum dan Konser Taman “Tiga Dara”

31 Maret 2010, Teater Kecil / Lobby Teater Kecil dan Halaman Teater Kecil

 

National Film Day 2010

Kineforum – the Jakarta Arts Centre

Presents

National Film Month 2010 “History is Now 4”

Teater Kecil, Mondays – Wednesdays, 1 – 31 March 2010

 

The National Film Day is commemorated every 30 March the first shooting day of “Darah dan Doa” directed by Usmar Ismail sixty years ago. Now, we are still facing problems that prevent us from watching the history of film in a proper way.

 

“History is Now” is a continued program offered by Kineforum in an effort to preserve the legacy of the history of Indonesian films so that the present as well as the future generations have the sense of belonging and be able to enjoy them. Now, is the proper time to see the development of film in Indonesia which is demonstrating its existence. The Kineforum of the Jakarta Arts Centre wishes to invite various parties to join hand-in-hand in welcoming the important day for the Indonesia’s film society through the following series of events.

 

The Exhibition of the History of Theatre in Indonesia, 1 – 31 March 2010, Teater Kecil lobby

“Rock” Garden Concert, 14 March 2010, Teater Kecil plaza

Discussion: “Public Lecture Veronca Kusuma”, 27 March 2010, Teater Kecil lobby

Film screening of “Tiga Dara” and “Tiga Dara” costume and garden concert

31 March 2010, Teater Kecil lobby and Teater Kecil plaza

 

Acara ini terselenggara atas kerjasama antara PKJ-TIM, Dewan Kesenian Jakarta dan Kineforum

 

 

 

 

Pameran "Pelarangan Buku = Menutup Jendela Dunia"

Galeri Cipta III, 15 –17 Maret 2010, pkl.  10.00 wib s/d 21.00 wib


Kejaksaan Agung membredel lima buku di penghujung 2009.2009. Lima buku terlarang itu diantaranya “Dalih Pembunuhan Massal Gerakan 30 September dan Kudeta Soeharto” karangan John Rosa; dan “Suara Gereja Bagi Umat Tertindas: Penderitaan, Tetesan Darah dan Cucuran Air Mata Umat Tuhan di Papua Barat Harus Diakhiri”, karya Socratez Sofyan Yoman.

Sikap ini semakin menegaskan realitas bahwa praktek pelarangan buku oleh institusi negara tidak pernah hilang bahkan setelah reformasi. Dahulu, pelarangan buku sangat dikenal dan diasosiasikan dengan watak otoritarianisme rejim orde baru. Tak hanya pelarangan, tindakan represif ini pada masa lalu juga diikuti dengan penyitaan buku secara paksa dan bahkan penangkapan dan pengadilan bagi mereka yang terkait dengan buku tersebut. Pengadilan atas Bambang Subono dan Isti di Yogyakarta di akhir tahun delapan puluhan, dimana mereka harus mendekam dipenjara lebih dari empat tahun karena kedapatan membawa salah satu buku sastra Pramoedya Ananta Toer merupakan salah satu contohnya.

 

Padahal, masa reformasi yang digulirkan pada 1998 mendorong lahirnya reformasi konstitusional yang memperkuat jaminan hukum positif perlindungan hak asasi di Indonesia. Hal itu diikuti pula dengan ratifikasi dua konvenan internasional utama hak asasi manusia yakni kovenan hak sipil dan politik dan kovenan internasional hak ekonomi sosial dan budaya di tahun 2005 melalui UU no 11 dan 12 tahun 2005.. Langkah pemerintah ini semakin mengukuhkan jaminan normatif perlindungan hak asasi pada masa transisi. Namun, keberlangsungan praktek pelarangan buku ini tentu menimbulkan sejumlah pertanyaan kritis atas komitmen perlindungan hak asasi khususnya maupun arah reformasi secara umum.

Dewan Kesenian Jakarta yang salah satu misinya mengakomodasi terciptanya iklim inspiratif demi pengembangan kreatifitas dan penciptaan karya, berada dalam satu barisan dengan ELSAM, ISSI, Ruang Rupa, Grafis Sosial, YLBHI, Yayasan Jurnal Perempuan, Komunitas Goodreads Indonesia dan Forum Indonesia Membaca, melawan tindakan anti kebebasan berpikir dalam kasus pembredelan buku-buku yang dilakukan oleh Kejaksaan Agung.

 

Serangkaian peristiwa seni mulai dari pameran, pertunjukan hingga karya seni di ruang publik akan menggarap tema serupa : Pelarangan Buku = Menutup Jendela Dunia. Acara ini akan berlangsung mulai 14 - 17 Maret 2010 di Galeri Cipta III, Taman Ismail Marzuki.

 

Pameran ini juga akan dimeriahkan oleh :  
* Pertunjukan Musik oleh Efek Rumah Kaca (ERK)
& Homicide
* SARASEHAN SENIMAN Senin, 15 Maret 2010, 13.00 – 15.00 WIB


* DISKUSI  Selasa, 16 Maret 2010, pkl 11.00 – 17.30 wib

 Mengkaji masalah pelarangan buku dari aspek Hukum, HAM dan Filsafat. Diskusi ini sedianya juga akan mengundang Jaksa Agung Muda bidang Intelijen, Kejaksaan Agung RI yang akan menjelaskan proses pelarangan buku.

 

Pkl 11.00 – 13.00 wib, Saatnya Penulis dan Pembaca Menolak Pelarangan Buku

Nara Sumber : Muhidin M. Dahlan (penulis LEKRA Tak Membakar Buku), Asep Sambodja (Dosen Sastra FIB UI),

                      Hilmar Farid (Institut Sejarah Sosial Indonesia)

 

Pkl. 13.00 – 15.00 wib, Kajian Kritis Tentang Pelarangan Buku

Apa dan Bagaimana Proses Pelarangan Buku

Nara Sumber : JAM Intel Kejakgung RI*

Pelarangan Buku Dari Aspek Hukum Dan HAM

Nara sumberPatra M. Zen ( Direktur YLBHI)
Pelarangan Buku Dari Sudut Pandang Filsafat
Nara sumber : Rocky Gerung (Dosen Filsafat FIB UI)

 

Pkl 15.30 – 17.30 wib, Dampak Pelarangan Buku Terhadap Masyarakat Pengguna Informasi

Pelarangan Buku Bagi Penggiat Informasi di Dunia Maya
Nara sumber: Agus Hamonangan  (Moderator Forum Pembaca Kompas)
Pelarangan Buku Bagi Komunitas Pembaca Buku
Nara sumberAmang Suramang (Goodreads Indonesia)
Pelarangan Buku Bagi Penulis
Nara Sumber: Wulan Guritno (Penulis dan aktris film) 
Pelarangan Buku Bagi Penerbit
Nara sumber : Setia Dharma Madjid (Ketua IKAPI)

 

Acara ini terselanggara atas kerjasama antara PKJ-TIM dan Dewan Kesenian Jakarta