Pameran Pelukis JABODETABEK

Deterjen

Galeri Cipta II, 17 – 30 Juli 2010, pkl 10.00 – 21.00 WIB

Pembukaan, Jumat, 16 Juli 2010, pkl 19.00 WIB

 

Ade Arti | Adi Kara | Andi Suandi | Baron Basuning | Budi Waluyo | Firman Lie | Hardi | Indyra | Ipe Ma’ruf | Ipong Purnomo Sidhi |

Irawan Karseno | Iskandar Suryaputra | Jerry Thung | Koko Radjasa | Laila Tifah | Nesther Sinaga | Nisan Kristyanto | Odji Lirungan |

Puguh Tjahjono Warudju | Sonny SK | Sri Warso Wahono | Syahnagra Ismail | Taufan | Ugo Haryono | Yoes Rizal | Yulianto Liestiono

 

Deterjen merupakan pameran akbar para pelukis Jakarta dan sekitarnya. Dewan Kesenian Jakarta mengundang puluhan pelukis untuk membuat karya dan berpameran bersama merespon fenomena hukum, politik, moral dan HAM di tanah air yang kian hari semakin memilukan.

 

Keadilan seolah-olah hanya milik kaum elite yang memiliki modal dan kekuasaan. Sebaliknya, pedang hukum yang tegas seolah-olah hanya akan ditegakkan bagi masyarakat pinggiran. Kondisi inilah yang belakangan memunculkan sikap apriori terhadap institusi negara, selanjutnya melahirkan krisis moral yang mendorong ke arah apatisme masyarakat. Tema pameran “Deterjen” diambil sebagai metafora dari fenomena itu.

 

 

* Diskusi Kritik Terhadap Keadaan (20 Juli 2010, pkl 14.00 wib s/d selesai )

   Pembicara : Wicaksono Adi & Merwan Yusuf

   Moderator : Tommy Awuy

 

Acara ini terselanggara atas kerjasama Dewan Kesenian Jakarta dan PKJ-Taman Ismail Marzuki

 

 

 

Lingkung Seni Sunda ITB menggelar acara

WANI TANDANG KU GETIH SUNDA

Graha Bhakti Budaya,

Minggu, 18 Juli 2010, pkl. 19.00 wib s/d selesai

 

Mempertunjukkan longser ‘BALE AMANAH’

Dalam rangkaaian kesenian : Upacara Bubuka, Tari Jaipong Bahidor Kaot, Rampak Kacapi, Tari Dharmalaya, Rampak kendang

 

Pemesanan Tiket :

Pria : 0817 2399 370

Aruni : 0857 9353 6817

Sunarko : 0857 2037 7479

 

Sekilas mengenai Lingkung Seni Sunda Institut Teknologi Bandung (LSS ITB)

Berdiri pada tanggal 15 April 1971 oleh Rektor ITB pada saat itu, Prof.Dr. Doddy Tisna Amijaya. Beliau bermaksud untuk membangun sebuah komunitas yang didalamnya bertujuan untuk melestarikan budaya Sunda utamanya di dalam kampus sendiri. Selain itu, tempat ini juga dapat dijadikan oleh para mahasiswa untuk mengembangkan kreativitasnya, khususnya di bidang seni budaya Sunda. Pelopor pendirian Lingkung Seni Sunda ITB pada saat itu adalah Sujana Wirakusumah (Sipil), Jajoen Wahyu (Sipil), dan Rastihat (Sipil).

 

Seiring dengan berjalannya waktu, LSS yang juga merupakan organisasi yang mengalir, memiliki anggota yang terus bertambah dan dalam setiap kegiatannya tidak hanya terpaku pada pengembangan budaya dan kesenian sunda. Akan tetapi, asas kekeluargaan yang selalu dijadikan dasar kegiatan LSS telah membuat LSS menjadi tempat bagi sebagian orang untuk berorganisasi dan berkumpul bersama. Sampai saat ini LSS selalu disibukkan oleh agenda rutin yang memang menjadi kebutuhan utama anggotanya, yaitu latihan-latihan rutin dan latihan pementasan.