Seniman Teater

Adi Kurdi

 

 

Kecintaan pada dunia seni, melahirkan cinta sejati. Dengan berbekal True Love, Ardi Kurdi, aktor film yang mempunyai latar belakang teater, bertemu pelabuhan hatinya seorang wanita yang hingga kini setia mendampingi hidupnya. Dia adalah Bernaditha Siti Ristyatuti, adalah adik kandung dramawan dan penyair kondang WS. Rendra, yang mau berbagi dalam suka dan dukanya.

 

Adi lebih senang disebut sebagai seniman, meskipun memiliki banyak kegiatan sampingan, di luar kegiatannya di bidang seni. Minat terhadap dunia seni sudah dimilikinya sejak kecil. Karena itu tak heran jika, setelah dewasa, ia mendaftarkan diri sebagai mahasiswa pada Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) dengan bidang studi seni patung. Langkah awal menekuni dunia seni ini sudah mulai dirambahnya dengan memasuki sekolah SSRI, yakni sebuah sekolah seni yang sederajat SMA. Adi mengaku mulai sangat mengagumi dunia seni, khusus yang dilihatnya dari pementasan drama atau ceramah-–ceramah WS. Rendra yang sangat memasyarakat dan bebas kreatif dalam mengeluarkan pendapat. Ketertarikan tersebut terus melecutnya hingga Adi Kurdi muda akhirnya menjadi seorang mahasiswa di sebuah sekolah seni, untuk akhirnya bergabung dengan dramawan besar WS. Rendra.

 

Seiring dengan perjalanan karir yang dilaluinya dengan penuh semangat dan motivasi, kehidupan cinta pun mulai dihampirinya. Sebagai seorang pemuda yang penuh cita-cita dan enerjik, anak pertama dari sembilan orang bersaudara ini berusaha untuk eksis di bidang seni.Pengenalannya pada dunia seni berawal dari pentas drama tahun 1972. Sekembalinya dari dari New York, Adi di tawari main film oleh Edward Pesta Sirait dalam film Gadis Penakluk.

 

Kisah cintanya dengan wanita yang kemudian menjadi kekasihnya, terjadi secara kebetulan. Ketika itu, aktor yang bernama lengkap Agustinus Adi Kurdi ini mengantarkan surat untuk seniman kondang WS. Rendra. Dan yang membukakan pintu adalah adik kandung sang dramawan, Siti Ristyastuti. Rupanya jumpa pertama tersebut menimbulkan getaran lain di hati kedua orang muda ini. Dan secara kebetulan pula keduanya, untuk kesekian kalinya, bertemu kembali dalam acara-acara khusus. Sejak saat itu hati keduanya mulai terpaut selama hampir sembilan tahun.

 

Sobrat, 2005

 

Tentu saja proses percintaan Adi dan Siti Ristyastuti tak selalu berjalan mulus. Namun semua kendala dan tantangan yang dihadapi, mereka lalui sebagai sebuah perjuangan yang mesti dimenangkan. Cinta juga telah memotivasi keduannya untuk terus berpikir maju, kendati hambatan senantiasa menghadang. Dulu orang tua saya benar-benar tidak setuju. Maklum dia benar-benar nyeni”(berpenampilan urakan), rambut gondrong, pakaian seadanya dan selalu hanya bersandal jepit. Tapi bagaimana lagi kami saling mencintai”, kenang Siti Ristyastuti mengenang masa –masa lalunya.

 

Maklum ketika itu saya masih jadi mahasiswa. Jadi idealisme saya mempengaruhi penampilan sehari-hari. Saya memang suka berpenampilan demikian, bebas. Selain itu, ketika itu juga, saya menyukai pakaian berwarna hitam, kenang mantan sekretaris DKJ periode 1990-1993 dan 1993-1996 ini.

 

Adi Kurdi mengaku jatuh cinta pada pandangan pertama. Begitu bertemu langsung tertarik. Selanjutnya membuat saya terpacu dalam segala hal. Semangat hidup saya terpacu untuk terus berjuang. Sebelumnya saya pernah mengenal wanita, tetapi rasanya baru dengan Siti saya merasa benar-benar jatuh cinta, ujar Adi tersenyum. Sementara Siti mengaku Adi adalah cinta pertamanya.

 

Walaupun begitu banyak rintangan buat mereka berdua yang pasti kini perkawinan Adi dan Siti di warnai kebahagiaan. Masalah yang dulu pernah ada, telah terselesaikan. Orangtua masing-masing sudah memberi restu. Memang perjuangan yang panjang telah memberi keyakinan pada mereka, bahwa kami betul-betul berniat baik untuk berumah tangga dan sekarang mereka memiliki seorang putri bernama Maria Advena Victoria.***

 

(Dari Berbagai Sumber)























Nama :

Agustinus Adi Kurdi

 

Lahir :

Pekalongan, Jawa Tengah

22 September 1948

 

Pendidikan :

ASRI jurusan patung (Yogyakarta)

STRI,

 School of The Art Theater Program New York University, USA (1976-1978)

 

Karier :

Dosen IKJ,

Staf Pengajar Sekolah Kepribadian John Robert Power

Filmografi :

Gadis Penakluk (1980),

Bukan Istri Pilihan (1981),

Putri Seorang Jendral (1981),

 R.A Kartini (1982),

Bunga Bangsa (1982)

Hatiku Bukan Pualam (1985),

Opera Jakarta (1985),

Surat Untuk Bidadari (1992)

 

Sinetron :

Sebening Air Matanya (1993),

Tentang Sendu (1994),

Bagaimanapun Hidup Ini Indah (1995),

Keluarga Cemara (1997),

Manisnya Cinta (1997)


Prestasi :
Mendapat Bea Siswa dari School of The Art Theater Program New York University, Amerika Serikat