|
Seniman Teater Adi Kurdi Kecintaan pada dunia seni,
melahirkan cinta sejati. Dengan berbekal True
Love, Ardi Kurdi, aktor film yang mempunyai latar belakang teater,
bertemu pelabuhan hatinya seorang wanita yang hingga kini setia mendampingi
hidupnya. Dia adalah Bernaditha Siti Ristyatuti, adalah adik kandung dramawan
dan penyair kondang WS. Rendra, yang mau berbagi dalam suka dan dukanya. Adi lebih senang disebut
sebagai seniman, meskipun memiliki banyak kegiatan sampingan, di luar
kegiatannya di bidang seni. Minat terhadap dunia seni sudah dimilikinya sejak
kecil. Karena itu tak heran jika, setelah dewasa, ia mendaftarkan diri
sebagai mahasiswa pada Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) dengan bidang studi
seni patung. Langkah awal menekuni dunia seni ini sudah mulai dirambahnya
dengan memasuki sekolah SSRI, yakni sebuah sekolah seni yang sederajat SMA.
Adi mengaku mulai sangat mengagumi dunia seni, khusus yang dilihatnya dari
pementasan drama atau ceramah-–ceramah WS. Rendra yang sangat memasyarakat dan
bebas kreatif dalam mengeluarkan pendapat. Ketertarikan tersebut terus
melecutnya hingga Adi Kurdi muda akhirnya menjadi seorang mahasiswa di sebuah
sekolah seni, untuk akhirnya bergabung dengan dramawan besar WS. Rendra. Seiring dengan perjalanan karir
yang dilaluinya dengan penuh semangat dan motivasi, kehidupan cinta pun mulai
dihampirinya. Sebagai seorang pemuda yang penuh cita-cita dan enerjik, anak
pertama dari sembilan orang bersaudara ini berusaha untuk eksis di bidang
seni.Pengenalannya pada dunia seni berawal dari pentas drama tahun 1972.
Sekembalinya dari dari
Tentu saja proses percintaan
Adi dan Siti Ristyastuti tak selalu berjalan mulus. Namun semua kendala dan
tantangan yang dihadapi, mereka lalui sebagai sebuah perjuangan yang mesti
dimenangkan. Cinta juga telah memotivasi keduannya untuk terus berpikir maju,
kendati hambatan senantiasa menghadang. “Dulu
orang tua saya benar-benar tidak setuju. Maklum dia benar-benar nyeni”(berpenampilan urakan), rambut
gondrong, pakaian seadanya dan selalu hanya bersandal jepit. Tapi bagaimana
lagi kami saling mencintai”, kenang Siti Ristyastuti
mengenang masa –masa lalunya. “Maklum ketika itu saya masih jadi mahasiswa. Jadi
idealisme saya mempengaruhi penampilan sehari-hari. Saya memang suka
berpenampilan demikian, bebas. Selain itu, ketika itu juga, saya menyukai
pakaian berwarna hitam”, kenang mantan sekretaris DKJ
periode 1990-1993 dan 1993-1996 ini. Adi Kurdi mengaku jatuh cinta
pada pandangan pertama. Begitu bertemu langsung tertarik. Selanjutnya membuat
saya terpacu dalam segala hal. “Semangat
hidup saya terpacu untuk terus berjuang. Sebelumnya saya pernah mengenal
wanita, tetapi rasanya baru dengan Siti saya merasa benar-benar jatuh cinta”, ujar Adi tersenyum. Sementara Siti mengaku Adi
adalah cinta pertamanya. Walaupun begitu banyak
rintangan buat mereka berdua yang pasti kini perkawinan Adi dan Siti di
warnai kebahagiaan. Masalah yang dulu pernah ada, telah terselesaikan.
Orangtua masing-masing sudah memberi restu. Memang perjuangan yang panjang
telah memberi keyakinan pada mereka, bahwa kami betul-betul berniat baik
untuk berumah tangga dan sekarang mereka memiliki seorang putri bernama Maria
Advena (Dari
Berbagai Sumber)
|
Nama
: Agustinus Adi Kurdi Lahir
: Pekalongan, Jawa Tengah Pendidikan
: ASRI jurusan patung ( STRI, School of The Karier
: Dosen IKJ, Staf Pengajar Sekolah Kepribadian
John Robert Power Filmografi
: Gadis Penakluk (1980), Bukan Istri Pilihan (1981), Putri Seorang Jendral (1981), R.A Kartini (1982), Bunga Bangsa (1982) Hatiku Bukan
Pualam (1985), Opera Sinetron : Sebening Air Matanya (1993), Tentang Sendu (1994), Bagaimanapun Hidup Ini Indah
(1995), Keluarga Cemara (1997), Manisnya Cinta (1997)
|