|
Aktor Teater Salim Bungsu Kepahitan hidup dirasakan oleh
aktor kawakan dari Teater Koma ini. Rumahnya berlokasi di pelosok Kampung
Kahrikil, Kecamatan Ciseeng, Kabupaten Bogor. Sangat sederhana untuk ukuran
aktor seterkenal Salim. Ia mengatakan, rumah itu dibangun secara bertahap
dari honornya bermain teater dan sinetron. Di rumah itu, ruang tamu sekaligus
berfungsi sebagai ruang keluarga dan ruang makan. Di sudut ruangan terdapat
sepeda motor yang, kata Salim, “belum lunas kreditnya.” Bergabung dengan Teater Koma
pimpinan Nano Riantiarno tahun 1979. Pada saat yang sama, ia diterima bekerja
sebagai PNS dengan menjadi pesuruh di sebuah SD di Petojo Utara, Jakarta
Pusat. Namun, sejak tahun 1986 ia memutuskan berhenti. Salim Bungsu mengakui
bahwa tak mungkin mampu menghidupi istri dan empat anaknya dari hasil bermain
teater. Kendati dalam setiap pementasan Teater Koma senantiasa dipadati
penonton, itu bukanlah jaminan bagi kesejahteraan seorang aktor. Oleh sebab
itu, ketika tak ada produksi di Teater Koma, Salim mencari nafkah tambahan
dari dunia film dan sandiwara-sandiwara produksi TVRI. Belakangan, Salim juga bermain dalam
beberapa sinetron. “Tetapi, meski sudah lama berkesenian, pengiklan tidak
mengenal saya. Jadi, kalau bicara honor, saya ya enggak punya posisi
tawar. Tentu saja enggak ada apa-apanya dibandingkan dengan
artis-artis yang masih ABG sekalipun,” kata Salim yang begitu populer
ketika memerankan tokoh Julini dalam lakon Opera Kecoa. Selain itu, Salim juga mengaku
berkebun singkong untuk mencari tambahan penghasilan. Teater bagi Salim
Bungsu tak hanya wadah melampiaskan kecintaannya pada dunia seni peran. Lewat
teater, ia mengaku banyak belajar mengenai manusia. Ia secara leluasa bisa
melakukan observasi terhadap kehidupan manusia sehari-hari lewat teater. Memulai karier aktingnya saat
bergabung dengan sebuah grup teater keliling yang bernama Bencah Morarit
pimpinan Toto Raharjo. Pada tahun 1975 ia pindah ke Teater Cinta dan berganti
nama menjadi Salim Bungsu. Pimpinan grup teater tersebut, Haidir K. Rusmin,
memanggilnya Salim Bungsu dikarenakan ia adalah anak termuda di keluarganya.
Di Teater Koma, Salim Bungsu
akhirnya menemukan tempat dimana ia merasa seperti di rumah sendiri. Tidak
ada sesuatu yang begitu menarik apabila melihat wajahnya. Namun, Salim Bungsu
dapat menghipnotis penontonnya dengan setiap penampilannya, khususnya dalam
tiga pementasan Teater Koma yang sangat fenomenal, Bom Waktu, Opera
Kecoa dan Opera Julini. Ia merasa sangat beruntung bisa
bergabung dengan Teater Koma, yang ia anggap sebuah keluarga besar yang
bahagia. Teater Koma adalah rumah kedua buatnya, tempat dimana seluruh
anggotanya terlihat sangat harmonis. Ia sangat menikmati setiap peran yang ia
bawakan, setiap ia memainkan satu peran baru ia merasa seperti baru
dilahirkan kembali menjadi seseorang yang baru. Akting memberinya kesempatan untuk
istirahat dari kenyataan dan hidupnya, bagaimana ia bisa menjadi orang lain.
Akting juga memperkaya jiwanya karena ia bisa melihat kehidupan yang melalui
kacamata yang berbeda. (Dari
Berbagai Sumber) |
Nama : Haryo Sungkowo Lahir : Tahun 1960 Profesi : Pemain Teater Filmografi : Bernafas Dalam Lumpur (1991), Si Kabayan dan Anak Jin (1991) |