Nama : Mohammad
Diponegoro Lahir : Wafat : Pendidikan : SMP Muhammadiyah
Yogyakarta (1945), SMA Yogyakarta (1950), Fakultas Sospol jurusan Hubungan International UGM (1968), Kursus Bahasa Jepang (1964), Kursus Kewartawanan (1974), Karier : Tentara Republik Indonesia, Batalyon 25 resimen 22 di Yogyakarta
(1945-1947), Resimen Ontowiryo, divisi III Yogyakarta, pangkat Letnan II (1947-1948), Guru Bahasa Indonesia pada SMP DPPK, Teritorial III Bandung
(1951), Redatur Majalah Media Yogyakarta (1954-1958), Redaktur Harian Suara Ummat, Yogyakarta (1955-1956), Majalah Suara Muhammadiyah (1965), Pengusaha tenun tangan Surya Kencana (1960-1969), Wakil Pemimpin Redaksi majalah Suara Muhammadiyah, Pengasuh acara cerpen
Radio Australia Penghargaan : Novel Siklus meraih hadiah Penghargaan Sayembara Mengarang Roman Panitia Tahun Buku Internacional 1972
DKI Yakarta Karya Tulis
: Manifestasi (1963), Kabar Wigati
dan Kerajaan (1977), Duta Islam Untuk
Dunia Modern (1983), Percik-Percik
Pemikiran Iqbal (1983), Siasat (1984), Yuk Nulis
Cerpen Yuk (1985), Odah dan Cerita Lanilla (1986) Naskah Teater
: Surat Pada
Gubernur (1977), Iblis (1983), Ibrahim |
Seniman Teater Mohammad Diponegoro Mohammad
Diponegoro, mulanya cenderung menyenangi musik dan seni
rupa. “Semasa SMA saya tidak
tertarik bidang sastra”, katanya.
“Cita-cita saya
sebenarnya ingin jadi insinyur listrik” tambahnya.
Tapi setelah lulus SMA ia bukannya belajar
elektro. Melainkan berangsur-angsur terkenal sebagai penyair, penulis cerpen dan novel, dramawan. Anak ketiga diantara
12 bersaudara. Ayahnya, Haji Hasjim memberinya
sekaligus dua nama yang gagah, Mohammad Diponegoro. Ia dibesarkan di lingkungan pusat Muhammadiyah,
dikampung Suronatan dan Kauman di Kota Yogya. Baru saja menamatkan SLP, Dipo
terlibat Perang Kemerdekaan. Ia tergabung dalam TRI Batalyon 25, Resimen 22
di Yogya (1945-1947) dan kemudian Resimen Ontowiryo Divisi III di kota yang
sama dengan pangkat letnan dua dan jabatan komandan seksi. Mengarang di
berbagai koran dan majalah, dan novelnya Siklus memenangkan sayembara Dewan
Kesenian Jakarta diterbitkan PT Dunia Pustaka Jaya, tahun 1975. Sejak tahun
1969, sekali seminggu cerpennya disiarkan Radio Australia. Tahun 1961 didirikannya Teater Muslim, yang dipimpinnya
selama 10 tahun, sebuah grup pertama yang dikelola secara modern sesudah masa
Usmar Ismail di zaman Jepang. Grup ini menyelenggarakan kursus akting dan
lain-lain secara teratur dan, juga yang pertama, mengadakan sayembara
penulisan lakon seluruh Indonesia. Perkembangan Teater Muslim tidak hanya
menarik kegiatan drama di kalangan muda Islam di banyak kota. Tapi juga
diikuti lahirnya Teater Kristen pimpinan Darmanto Jt. Yang juga seorang
penyair dan Studi Teater Arena Katolik pimpinan Jasso Winarto, yang juga
seorang pengarang dan orang film, meski dua-duanya tidak berhasil menonjol.
Dalam Teater Muslim berkumpul nama-nama seperti Pedro Sudjono, Arifin C.
Noer, Ikranegara, Amorono Katamsi dan secara tidak langsung juga Amak Baldjun,
Chaerul Umam, Syubah Asa, Abdurrahman Saleh yang kini menjadi ketua Mahkamah
Agung. Iblis,
drama panjang yang ditulis Dipo bercerit tentang pengorbanan Ismail oleh
ayahandanya. Ibrahim, dipentaskan puluhan kali dan dibawa ke
beberapa pesantren dan jantung-jantung kalangan Islam lain sebagai pengatrol
apresiasi dan tak urung juga pembangkit kontroversi dengan sebagian kalangan
legalis fikih Islam. Untuk itu Dipo dibantu oleh tokoh Perintis Kemerdekaan
A.R. Baswedan. Diponegoro adalah salah seorang yang ikut ke Amerika
Serikat dalam program pertukaran mahasiswa AFS (American Field Service) untuk
pertama kalinya. Bersama karya-karya Djamil Suherman dan Kaswanda Saleh,
terjemahan puitis juz 30 Al Quran gubahan Diponegoro dikumpulkan pengarang A.
Bastari Asnin dalam Kabar dari Langit,
yang meski tak jadi diterbitkan banyak dideklamasikan dimana-mana dan
merupakan awal kegiatan puitisasi di belakang hari. Dipo sendiri tak menganggap dirinya pelopor, ia
menyebut penyair Rifai Ali di tahun 1930-an yang harus dianggap perintis.
Diponegoro juga seniman pertama yang menerjemahkan syair-syair maulid yang
banyak dilagukan di kampung-kampung, Barzanji petikan, dimuat majalah Panji
Masyarakat tahun 1960-an. (Dari Berbagai Sumber) |