Nama :

Mohammad Diponegoro

 

Lahir :

Yogyakarta, 28 Juni 1928

 

Wafat :

Yogyakarta, 9 Mei 1982

 

Pendidikan :
HIS Muhammadiyah Yogyakarta (1942),

SMP Muhammadiyah Yogyakarta (1945),

SMA Yogyakarta (1950),

Fakultas Sospol jurusan Hubungan International UGM (1968),

Kursus Bahasa Jepang (1964),

Kursus Kewartawanan (1974),

 

Karier :

Tentara Republik Indonesia, Batalyon 25 resimen 22 di Yogyakarta (1945-1947),

Resimen Ontowiryo, divisi III Yogyakarta, pangkat Letnan II (1947-1948),

Guru Bahasa Indonesia pada SMP DPPK, Teritorial III Bandung (1951),

Redatur Majalah Media Yogyakarta (1954-1958),

Redaktur Harian Suara Ummat, Yogyakarta

(1955-1956),

Majalah Suara Muhammadiyah (1965),

Pengusaha tenun tangan Surya Kencana (1960-1969),

Wakil Pemimpin Redaksi majalah Suara Muhammadiyah,

Pengasuh acara cerpen Radio Australia

 

Penghargaan :

Novel Siklus meraih hadiah Penghargaan Sayembara Mengarang Roman Panitia Tahun Buku Internacional 1972 DKI Yakarta

 

Karya Tulis :

Manifestasi (1963),

Kabar Wigati dan Kerajaan (1977),

Duta Islam Untuk Dunia Modern (1983),

Percik-Percik Pemikiran Iqbal (1983),

Siasat (1984),

Yuk Nulis Cerpen Yuk (1985),

Odah dan Cerita Lanilla (1986)

 

Naskah Teater :

Surat Pada Gubernur (1977),

Iblis (1983),

Ibrahim

 

 

Seniman Teater

 

Mohammad Diponegoro

 

 

Mohammad Diponegoro, mulanya cenderung menyenangi musik dan seni rupa. Semasa SMA saya tidak tertarik bidang sastra, katanya. Cita-cita saya sebenarnya ingin jadi insinyur listrik tambahnya. Tapi setelah lulus SMA ia bukannya belajar elektro. Melainkan berangsur-angsur terkenal sebagai penyair, penulis cerpen dan novel, dramawan. Anak ketiga diantara 12 bersaudara. Ayahnya, Haji Hasjim memberinya sekaligus dua nama yang gagah, Mohammad Diponegoro.

 

Ia dibesarkan di lingkungan pusat Muhammadiyah, dikampung Suronatan dan Kauman di Kota Yogya. Baru saja menamatkan SLP, Dipo terlibat Perang Kemerdekaan. Ia tergabung dalam TRI Batalyon 25, Resimen 22 di Yogya (1945-1947) dan kemudian Resimen Ontowiryo Divisi III di kota yang sama dengan pangkat letnan dua dan jabatan komandan seksi. Mengarang di berbagai koran dan majalah, dan novelnya Siklus memenangkan sayembara Dewan Kesenian Jakarta diterbitkan PT Dunia Pustaka Jaya, tahun 1975. Sejak tahun 1969, sekali seminggu cerpennya disiarkan Radio Australia.

 

Tahun 1961 didirikannya Teater Muslim, yang dipimpinnya selama 10 tahun, sebuah grup pertama yang dikelola secara modern sesudah masa Usmar Ismail di zaman Jepang. Grup ini menyelenggarakan kursus akting dan lain-lain secara teratur dan, juga yang pertama, mengadakan sayembara penulisan lakon seluruh Indonesia. Perkembangan Teater Muslim tidak hanya menarik kegiatan drama di kalangan muda Islam di banyak kota. Tapi juga diikuti lahirnya Teater Kristen pimpinan Darmanto Jt. Yang juga seorang penyair dan Studi Teater Arena Katolik pimpinan Jasso Winarto, yang juga seorang pengarang dan orang film, meski dua-duanya tidak berhasil menonjol. Dalam Teater Muslim berkumpul nama-nama seperti Pedro Sudjono, Arifin C. Noer, Ikranegara, Amorono Katamsi dan secara tidak langsung juga Amak Baldjun, Chaerul Umam, Syubah Asa, Abdurrahman Saleh yang kini menjadi ketua Mahkamah Agung.

 

Iblis, drama panjang yang ditulis Dipo bercerit tentang pengorbanan Ismail oleh ayahandanya. Ibrahim, dipentaskan puluhan kali dan dibawa ke beberapa pesantren dan jantung-jantung kalangan Islam lain sebagai pengatrol apresiasi dan tak urung juga pembangkit kontroversi dengan sebagian kalangan legalis fikih Islam. Untuk itu Dipo dibantu oleh tokoh Perintis Kemerdekaan A.R. Baswedan.

 

Diponegoro adalah salah seorang yang ikut ke Amerika Serikat dalam program pertukaran mahasiswa AFS (American Field Service) untuk pertama kalinya. Bersama karya-karya Djamil Suherman dan Kaswanda Saleh, terjemahan puitis juz 30 Al Quran gubahan Diponegoro dikumpulkan pengarang A. Bastari Asnin dalam Kabar dari Langit, yang meski tak jadi diterbitkan banyak dideklamasikan dimana-mana dan merupakan awal kegiatan puitisasi di belakang hari.

 

Dipo sendiri tak menganggap dirinya pelopor, ia menyebut penyair Rifai Ali di tahun 1930-an yang harus dianggap perintis. Diponegoro juga seniman pertama yang menerjemahkan syair-syair maulid yang banyak dilagukan di kampung-kampung, Barzanji petikan, dimuat majalah Panji Masyarakat tahun 1960-an.

 

(Dari Berbagai Sumber)