Pantomimer

Jemek Supardi

 

Jemek Supardilahir di Pakem, Kabupaten Sleman, Yogyakarta, 14 Maret 1953. Berlatar belakang pendidikan SMP dan hanya tiga bulan mengecap Jurusan Seni Lukis Sekolah Menengah Seni Rupa Indonesia (SMSRI). Semula ia menekuni teater dan pernah bergabung di sejumlah kelompok teater, seperti Teater Alam, Teater Dinasty dan Teater Boneka. Lantaran ia kesulitan dalam menghafal naskah, akhirnya ia menekuni pantomim sebagai penyaluran hasrat berekspresinya.

 

Keahlian berpantomim ia dapatkan sendiri secara otodidak. Menciptakan seni dalam bahasa gerak berdasarkan imajinasinya. Tidak ada figur yang memberi ilmu pantomin kepadanya. Ia hanya rajin menonton pentas pantomim dari luar negeri yang pentas di Yogykarta, termasuk mpu pantomim Prancis, Marcel Marceau, yang dikaguminya.

 

Ia sering berpantomim di tempat tak lazim, di jalan, kuburan, kereta api, dan Rumah Sakit Jiwa Magelang. Dia juga membuat heboh ketika pantomim tak disertakan dalam agenda Festival Kesenian Yogyakarta 1997. Berpakaian kaos hitam-hitam dan muka putih dia berangkat dari rumahnya di Jl. Katamso dengan naik becak ke Pasar Seni FKY. Tapi, satuan petugas keamanan di Benteng Vredeburg mencegat dan menggelandangnya. Ia lalu menggelar pantomim Pak Jemek Pamit Pensiun di sepanjang Malioboro, jalan itu pun macet total.

 

Jemek juga pernah menggelar aksi diam sepanjang Yogya-Jakarta saat aksi mahasiswa menuntut mundur Soeharto. Yang sempat menjadi buah bibir adalah ketika Jemek tahun 1998 mementaskan dirinya mati dan dikubur di Makam Kintelan, tempat para pahlawan dikuburkan.

 

Teater Dinasti, Tikungan Iblis (2008)

Ia setuju jika seniman terlibat dalam berbagai kegiatan dengan menampilkan kemampuannya lewat performance art. Meski sebenarnya performance art merupakan istilah baru, karena sebelumnya banyak dilakukan. Tapi Pardi Kampret, nama panggilannya, berharap, order seperti itu mesti digarap serius sesuai tema, tak sekadar melumuri tubuh dengan warna. Begitu pula dengan seni on the road yang kini banyak dimanfaatkan untuk promosi.

 

Selama 35 tahun berkesenian banyak karya telah dilahirkan. Mengenai generasi penerus di dunia pantomim, ia melihat banyak potensi. Ia berharap keinginan para guru teater lulusan ISI Yogyakarta yang beberapa waktu lalu berkumpul di Surabaya untuk memasukkan pantomim sebagai bagian penting dalam kurikulum bisa terwujud. Sebaliknya untuk menemukan orang yang berani total menggeluti pantomim, ia mengatakan, Belum ada titik terang”. Karena hidup dengan hanya menggantungkan penghasilan dari bermain pantomim, jelas mustahil. Hal ini mengingat jarang sekali pertunjukan yang melibatkan seni pantomim.

 

Karya seninya dibawakan secara tunggal dan kolektif. Kini, ia tengah mempersiapkan sebuah karya pantomim tunggal yang bertajuk Buku Harian Si Tukang Cukur yang merupakan idenya sendiri.

 

Meskipun dia pernah menjalani kehidupan malam yang kelam, mencopet, mencuri, dan masuk penjara, pria tamatan Suami dari Reda Maryati ini tampaknya telah menjadikan seni pantomim sebagai bagian dari hidupnya.

 

(Dari Berbagai Sumber)

 

Nama :

Jemek Supardi

 

Lahir :

Pakem, Sleman, Yogyakarta, 14 Maret 1953

 

Pendidikan :

SMP

Sekolah Menengah Seni Rupa Indonesia (Tidak Tamat)

 

Karya :

Sketsa-sketsa Kecil (1979),

Jakarta-Jakarta (1981),

Dokter Bedah (1981),

Perjalanan hidup dalam gerak (1982),

Jemek dan Laboratorium (1984),

 Jemek dan Teklek Jeme (1984),

Katak Jemek dan Pematung (1984),

Arwah Pak Wongso (1984),

Perahu Nabi Nuh (1984),

Lingkar-lingkar Air (1986),

Sedia Payung Sesudah Hujan (1986),

Adam dan Hawa (1986),

Terminal-Terminal (1986),

Halusinasi Seorang Pelukis

(1986),

Manusia Batu (1986),

Kepyoh (1987),
Patung selamat Datang (1988), Pengalaman Pertama (1988),

Balada Tukang Becak (1988)

Halusinasi (1988),

Stasiun (1988),

Wamil (1988),

Soldat (1989),

Maisongan (1991),

Menanti di Stasiun (1992)

Sekata Katkus du Fulus (1992)

Se Tong Se Teng Gak (1994)

Termakan Imajinasi (1995),

Pisowanan (1997),

Kesaksian Udin (1997),

Kotak-Kotak (1997),

Pak Jemek Pamit Pensiun (1997),

Badut-badut Republik atau Badut-badut Politik (1998),

Bedah Bumi atau Kembali ke Bumi (1998),

Dewi Sri Tidak Menangis (1998),

 Menunggu Waktu Pantomim (1998),

 Yogya-Jakarta di Kereta (1998),

Kaso Katro (1999),
Eksodos (2000),

1000 Cermin Pak Jemek (2001),

Topeng-topeng (2002),

Kaca (2007),

Air Mata Sang Budha (2007),

Mata-Mati Maesongan 2 (2008),

 Menunggu (Kabar) Kematian

(2008),

Pisowanan (2008)

 

Penghargaan :

Penghargaan dari Sultan Hamengku Buwono IX