Aktor Teater

 

 

 

Mark Sungkar

 

 

 

Ia termasuk pekerja seni yang serius. Ini ia buktikan dengan tekadnya menuntut ilmu di Akademi Theater Amsterdam, Belanda (1975-1979) dan International School for Musical Entertainment Hilversum, Belanda (1977-1980). Sebelumnya, ia pernah bergabung dengan Balai Kesenian Solo dan Teater Kecil pimpinan Arifin C. Noer (1968-1970), serta Nederlandse Operette Vereniging Amsterdam (1976-1977). Bergabung dengan Bina Vokalia pimpinan Prananjaya (1973) dan Delfero Talent Pedagog Amsterdam (1976-1978).

 

Sejatinya, ia meniti karier di dunia teater sejak tahun 1962. kemudian mulai bermain film dan lakon televisi pada tahun 1970. bakatnya di bidang olah vokal yang ia asah sejak tahun 1977 melahirkan beberapa single dan album rekaman. Di antaranya ; She Believe in Me (1979), Hution Mind (1980), Bunga-bunga Cinta (1985) dan Kaki Limo (1989). Sebagai Penyanyi, ia pernah mewakili Indonesia dalamAsean Concert” di Brunei Darussalam (1984), dan Bangkok (1985). “International Song Festival” di Chile (1986) dan “April Spring Festival” di Pyong Yang (1987). Mentari di Sedayu dan Sang Guru, adalah dua di antara lakon televisi yang pernah ia mainkan.

 

Abang Thamrin Dari Betawi (2007)

Setelah sempat hampir bercerai dengan sang isteri, Fanni Beauty, kini Mark Sungkar bertambah bahagia dan mesra. Kakak dari Hj Lutfiyah Sungkar ini mengaku bahwa keresahan yang terjadi di rumah tangganya selama ini, akibat kurangnya komunikasi. Musibah yang menimpa rumah tangga kami kemarin, ternyata membawa hikmah. Kini kami semakin mesra setelah 3 bulan berpisah, ujar Mark Sungkar, di Masjid Alhakim.

 

Menurut Mark, rahasia sukses berumah tangga dengan Fanni adalah komunikasi dan saling mencintai. Alasannya, cinta harus ada, setelah menjadi sepasang suami isteri. Kendati terdapat perbedaan, namun Mark merasa perbedaan itu adalah buah dari cinta. Yang namanya suami isteri pasti berbeda, dan perbedaan itu harus kita syukuri, ujar Mark Sungkar.

 

Sebagai suami harus bisa memaafkan isteri,kata Mark. Mark menambahkan, Dalam rumah tangga, tidak ada yang sempurna. Dan pernikahan adalah pengorbanan. Siapa saja yang akan menikah, harus siap berkorban. Karena cinta adalah pengorbanan. Kami bersyukur masih bisa bersatu kembali. Waktu itu yang kami pikirkan hanyalah anak, terangnya. Mark berharap, keluarganya tetap diberkahi Tuhan dan rukun seperti biasa, karena keluarga adalah pintu kesuksesan dalam karir.

Pada 8-9 juni 2007 lalu, Mark Sungkar bermain dalam pementasan Teater Abang Thamrin Dari Betawi karya Asrul Sani bersama Sanggar Pelakon pimpinan Mutiara Sani di Graha Bhakti Budaya, TIM. Dalam pementasan tersebut Mark berperan sebagai Fruin, orang Belanda yang menentang kebijakan-kebijakan MH. Thamrin. Mark merasa bahagia mendapatkan kesempatan untuk tampil kembali dalam pementasan yang sama dengan 20 tahun yang lalu. Bedanya kalau dulu saya memainkan peran sebagai legislator Kevin de Jong yang panjang-panjang dialognya, saat ini sebagai fruin yang relatif pendek-pendek. Saya bahagia, katanya.

(Berbagai Sumber)

Nama :

Mubarak Aly

 

Lahir :

………Solo, Jawa Tengah,

22 Oktober 1948

 

Pendidikan :

SMA,

Kursus Bahasa Inggris di USIS (1968-1969),

Kursus Bahasa Perancis di AF (1971-1972),

Kursus Bahasa Belanda di V. Universitas Amsterdams, Belanda (1974-1975),

Akademi Theater Amsterdam, Belanda

 (1975-1978),

International School for Musical Entertainment Hilversum, Belanda

(1977-1980)

 

Profesi :

Aktor dan Sutradara

 

Filmografi :

Dan Bunga-Bunga Berguguran (1970),

Djalang (1970),

Djatuh Dikaki Lelaki (1971),

Lantai Berdarah (1971),

Pengedjaran ke Neraka (1971),

Rina (1971),

Benteng Betawi (1971),

Di Balik Kelambu (1983),

 Jalan Kehidupan (1996),

From Rhetoric To Reality : And The Day Came (2000),

 

Sinetron :

Dua Dunia (1977)