|
Seniman Teater Slamet Rahardjo Nama panggilannya
Memet. Waktu sekolah ia paling anti diajak deklamasi atau main sandiwara. “Kalau disekolah
ada latihan, lampu saya padamkan”, katanya.
Kini Slamet Rahardjo adalah seorang sutradara. Film pertama yang disutradarainya, Rembulan dan
Matahari, meraih tiga Piala Citra di FFI tahun 1980 di Tentu, ia harus bersusah payah dahulu untuk meraih kedudukan itu. Sebelumnya, anak mayor udara dan cucu
Asisten Bupati Serang itu harus
puas dengan posisi sebagai anak bawang di
Teater Populer, pada tahun 1969. Karena kesungguhannya, ia bisa naik
panggung dalam pertunjukan drama Pernikahan Darah, Kopral Woyzek, dan Perhiasan
Gelas. Dua tahun kemudian, tahun 1971, ia terjun ke
film. Ia membintangi Wadjah Seorang
lelaki, yang disutradarai
Teguh Karya. Tiga tahun setelah
menggumuli dunia film, Memet, nama panggilannya,
meraih gelar Aktor Terbaik dalam FFI tahun 1974, lewat permainannya yang mengesankan dalam film Ranjang Pengantin.
Setelah itu, film yang dibintanginya adalah Perkawinan dalam
Semusim, Badai
Pasti Berlalu tahun 1977, dan November
1828 tahun 1978.
Ia lalu pindah ke Anak sulung dari tujuh bersaudara
itu menikah pada bulan September tahun 1984. Ia mempersunting putri bungsu Ilen Suryanegara,
Duta besar RI untuk Aljazair. “Saya Menikah tepat dengan dateline
yang diberikan orang tua”,
kata Memet lagi. Kini setelah
berhasil menjadi pemain terbaik dan sutradara terbaik, cita-citanya adalah menjadi suami dan ayah terbaik. Ia agaknya
tak ingin mengulang tragedi perceraian orangtuanya, Djarot Djojoprawiro dan Ennie Tanudiredja.*** (Dari Berbagai Sumber) |
Nama
: Slamet Rahardjo Djarot Lahir
: Serang, Banten 21
Januari 1949 Profesi
: Aktor dan
Sutradara Kegiatan
lain : Dosen Penyutradaraan
FFTV-IKJ
Ketua Umum
Karyawan Film dan Televisi (1995-1999), Ketua Komisi
Budaya Badan Pertimbangan Film Nasional/BP2N (1985-1998), Ketua Yayasan
Teater Populer, Direktur Utama PT Ekapraya Tatacipta Film, President
of CAPA (Cilect Asia- Pasific Association)
Pendidikan
: SD
(1959), SMPN
VIII SMAN
TG Pandan (1967), Akademi Film Nasional Jayabaya - Kamera (tidak selesai 1968), Akademi Teater Nasional Filmografi
: Wadjah Seorang Lelaki (1971), Cinta Pertama
(1973), Ranjang Pengantin (1974), Kawin Lari
(1975), Perkawinan Dalam Semusim (1976), Badai Pasti
Berlalu (1977), November
1828 (1978), Rembulan dan Matahari (1979), Seputih Hatinya Semerah Bibirnya (1981), Dibalik Kelambu (1982), Ponirah Terpidana (1983), Kembang Kertas (1984) Kodrat (1986),, Tjoet Nya
Dhien (1986), Kasmaran (1987), Langitku Rumahku (1989), Kantata Takwa (1990) Mirage
(1992), Anak Hilang
(1993), Marsinah (2000), Suro Buldog
(2004), Banyu
Biru (2004), Ruang (2006), Badai Pasti
Berlalu (2007), Laskar Pelangi (2008), Cinta Setaman
(2008), Bahwa Cinta
Itu Alangkah Lucunya Negeri Ini (2010), Sang
Pencerah (2010) Sinetron
: Suro Buldog
(1994), Demi Cinta
dan Anakku (1995), Oh
Ibu dan Ayah Selamat Pagi (1997), Istri Pilihan
(1977) Karya Teater
: Sutradara Sandiwara Rambut Palsu, Sutradara sandiwara It
Should Happen To a Dog, Sutradara sandiwara Laddy Aoi, Sutradara sandiwara Perempuan Pilihan Dewa, Sutradara Sandiwara Dag Dig Dug, Sutradara sandiwara Pakaian dan Kepalsuan Penghargaan
: Aktor Terbaik
FFI 1975 dalam Film Ranjang
Pengantin, Aktor Terbaik
FFI 1983 dalam Film Dibalik
Kelambu, Sutradara Terbaik FFI 1985 dalam Film Kembang Kertas, Best
Scenario Writer Festival Film Non-Blok (1985), Sutradara Terbaik FFI 1987 dalam Film Kodrat, Sutradara Terbaik FFI 1989 dalam Film Langitku Rumahku, Film
Langitku Rumahku menang di Festival
International Des Trois Continent, Film
Langitku Rumahku meraih Best Children Film, Melbeourne
Film Festival (1991), Film
Langitku Rumahku meraih Unicef Award dalam Film
Langitku Rumahku meraih Bronz Award Hadiah Usmar Ismail 1996 dari BP2N, Sutradara Terbaik Bali International Film Festival (2003), Satya Lencana
Kebudayaan RI (2004), Film Dokumenter Kantata Takwa yang dibuat bersama Erros Djarot Gotot Prakosa meraih penghargaan Golden Hanoman dan Geber Award pada Jogja Netpac
Asian Film Festival 2008, Anugerah Akademi Jakarta 2008, Anugerah Federasi Teater Indonesia 2009 |