Nama : Sudibyanto Lahir : Solo, Jawa Tengah, 29 Januari 1946 Pendidikan : SD (tamat 1958), SMP (tamat 1962), SMA (tamat 1966), Kursus Jurnalistik Penghargaan : Tahun 1973 dan 1974, secara berturut-turut meraih
Medali Emas, Medali Perak, dan Medali Perunggu untuk grup teater, dalam
bidang penyutradaraan, pemain dan artistik pada Festival Teater Remaja yang
diadakan oleh Dewan Kesenian Jakarta Karya Naskah : Lomba Ngibul Kalung Ajaib Tiga Piatu Gundul-Gundul Pacul |
Seniman Teater Sudibyanto Lahir 29 Januari
1946 di Solo, Jawa Tengah. Sejak masih di bangku
SD, Dibyo, nama panggilannya, sudah tertarik pada kesenian ketoprak, wayang orang, wayang kulit, tonil. Saat di
SMP, selain ia hafal isi buku
Enam Pelajaran Pertama Bagi Calon Aktor, karangan Boleslavsky ia juga mulai
mencoba-coba berakting bersama kawan-kawannya. Saat di SMA, ia mengasuh teater
SMA Negeri I, II, III Solo, di
samping aktif di Study Club Teater Setelah tamat
SMA, ia hijrah ke
Tahun 1970 kembali
ke Lewat Sanggar Teater Jakarta ia telah mementaskan drama anak-anak berkali-kali di Direktorat Kesenian Dep. P dan K, Taman Ismail Marzuki, Gelanggang Remaja di seluruh
Jakarta, Pasar Seni Ancol, Taman Mini Indonesia Indah, kampus-kampus dan sekolah-sekolah. Bahkan ia beserta
rombongan teaternya pernah melewat pula ke Tahun 1973 dan
1974, secara berturut-turut
ia meraih medali emas, medali perak dan medali perunggu
untuk grup teaternya, dalam bidang penyutradaraan, pemain dan artistik
pada Festival Teater Remaja yang diadakan oleh Dewan Kesenian
Jakarta, lewat Remy Sylado
sebagai sutradaranya. Sampai tahun
1985, disamping membina teater remaja, ia juga membina
teater anak dan secara rutin
mentas di Taman Ismail Marzuki dengan naskah karyanya sendiri, diantaranya, Lomba Ngibul, Kalung Ajaib, Tiga Piatu, Gundul-Gundul Pacul dll. Serta karya
pengarang lain, seperti,
Hutang Budi di Bawa Mati,
Ella Putri Abu, Monyet
Dungu, Cici Meni, Si Miskin
yang Dermawan.
Di samping pentas rutin di TIM Jakarta, Sudibyanto juga kerap pentas
di pasar seni Ancol dan
Rumentang Siang Bandung. Tahun 1976, naskahnya yang berjudul Kalung Ajaib diterbitkan oleh Balai Pustaka dan sudah beberapa
kali naik cetak. Sanggar Teater Jakarta yang dipimpinannya juga di kenal sebagai
cikal bakal teater modern di Jakarta Timur. Buku dramanya
Kalung Ajaib yang diterbitkan Balai Pustaka, sudah masuk cetakan ke-13, dan meraih predikat
Best Seller. Pernah melatih akting di sanggar
Cinta Rasul bersama Sulis dan Hadad Alwi
di Womens International Club, di
Studio 3 bersama Adi Kurdi, di Pesantren
Rindu Alam Sukabumi, di Kine Klub Sukabumi.
Memimpin Workshop Akting di Samarinda bersama Sanggar Teater Jakarta, di Lenong Trend, di Bengkel Creative Anak Indonesia
dan terakhir memimpin Lingkar Budaya, sebuah Komunitas Seniman di Jakarta Timur yang bergerak di bidang
Apresiasi Seni Budaya. Sebagai pemain, ia juga pernah
bermain diberbagai judul sinetron antara lain Kalau Bulan Bisa Ngomong
bersama Dedy Mizwar, Dewi Yull, Eeng Saptahadi
dan Mamok Pratomo. Bermain dalam Misteri Gunung Merapi, Paket Ramadhan Maha Patih Gajah
Mada dan menyutradarai Teatronik Fajar Sidiq karya Emilia Sanosa dan Iblis
karya Mohammad Diponegoro.
Dalam Teroris
yang ditayangkan Kini Sudibyanto
yang juga merupakan adik ke delapan
penyair Rendra (alm) menetap di Yogyakarta dan mendirikan Sanggar Teater Yogya. Ia juga
menggarap proyek teater anak-anak, remaja, dan dewasa
bersama Dewan Kesenian Yogyakarta. (Dari Berbagai Sumber) |